Selamat Datang di Media Online Bungong Lam Jaro

Indonesia Sudah di Stadium 4, Sejarah Berulang, Kebenaran Terus Terpinggirkan



BungoengLamJaroe.Com  | Kota Langsa (Aceh) – Menurut pandangan Zulfadli.S.Sos.I.MM selaku Pendiri LSM Bungong Lam Jaro, kondisi bangsa Indonesia saat ini jika diibaratkan sebagai penyakit, sudah berada pada tahap paling parah atau stadium 4. Ia menelusuri rangkaian peristiwa sejarah berpuluh tahun ke belakang yang menurutnya menjadi bukti bagaimana kesalahan, kebohongan, dan penyimpangan terus berulang tanpa ada perbaikan yang berarti.

 

Zulfadli memulai renungannya dari masa silam: "Dulu, Presiden Soekarno dikatakan berbohong kepada rakyat Aceh, dan dari sanalah letusan gerakan DI/TII di Aceh bermula. Sejarah berputar, lalu anak beliau, Megawati Soekarnoputri, duduk di kursi kepresidenan, dan pada masa itu Satelit Palapa pun dijual kepada pihak asing. Ketika SBY terpilih menjadi presiden, dikabarkan pula ada rasa sakit hati yang mendalam dari Megawati. Hingga akhirnya Megawati mengambil langkah mengusung Jokowi untuk menjadi Presiden RI"

 

Lanjut Zulfadli, "Begitu Jokowi menjabat presiden, bermunculanlah proyek raksasa: pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan dan pembangunan jalan tol di berbagai penjuru. Namun yang menjadi sorotan besar, pembangunan tersebut diketahui sumber dananya sebagian besar merupakan utang luar negeri yang nilainya sangat besar. Di sisa masa jabatan beliau, muncul pula dugaan terkait keaslian ijazah Jokowi yang sempat menjadi perbincangan nasional, namun ironisnya hingga hari ini seolah tak tersentuh hukum—terkesan kebal dari proses penegakan hukum yang berlaku bagi rakyat biasa."

 

Kisah tak berhenti di situ. Menjelang berakhirnya masa jabatan, Zulfadli melihat adanya manuver politik yang menyatukan dua kekuatan besar: "Jokowi terlihat berupaya menitipkan anaknya, Gibran Rakabuming Raka, untuk berpasangan dengan Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden. Padahal di tengah proses itu muncul dugaan bahwa calon wakil presiden tersebut dikabarkan tidak memiliki ijazah SLTA yang sah. Namun anehnya, segala isu dan keraguan itu seakan diredam, dan pasangan tersebut akhirnya dinyatakan menang serta memegang kendali pemerintahan negara ini."

 

Kini, di bawah pemerintahan yang baru, rakyat kembali dibebani beban yang menurut Zulfadli sangat berat dan tidak adil. "Kini Ketua DPR RI, Puan Maharani—yang merupakan cucu dari Presiden Soekarno—justru meminta dan seolah memerintahkan seluruh rakyat Indonesia untuk diperas melalui pajak tambahan. Tujuannya bukan lain adalah untuk menutupi utang negara yang ditinggalkan oleh masa pemerintahan Jokowi yang sangat besar nilainya. Rakyat yang tidak pernah menikmati hasil pembangunan secara adil, justru disuruh menanggung beban utang yang dibuat oleh para pemimpinnya."

 

Zulfadli kemudian menyoroti langkah Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya memicu kegaduhan terhadap elemen pengawas masyarakat: "Di tengah suasana yang sudah penuh tekanan itu, Presiden Prabowo justru seolah memusuhi LSM, wartawan, jurnalis, dan para pengamat sosial. Beliau mengkategorikan kelompok-kelompok yang mengawasi kebenaran ini sebagai 'Londo Ireng'—tangan kanan penguasa yang menjalankan kejahatan. Padahal ironi yang paling menggelikan sekaligus menyedihkan adalah, ternyata Presiden Prabowo sendiri memiliki hubungan darah dengan keturunan yang disebut-sebut sebagai 'Londo Ireng' dari garis keturunan ibunya."

 

Ia pun mempertanyakan logika yang terjadi di negeri ini: "Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang darahnya sendiri masih bersambung dengan apa yang beliau tuduhkan, justru menuduh mereka yang berjuang menegakkan kebenaran? Di sisi lain, ada tokoh seperti Anies Baswedan yang kakeknya adalah seorang pahlawan nasional yang berjuang demi kemerdekaan dan kejujuran, namun justru kurang diberi tempat dan peran yang layak di negeri sendiri. Apakah memang benar-benar terjadi di sini, bahwa orang-orang yang jujur dan bersih tidak diperbolehkan menjadi pemimpin di negara ini? Apakah hanya orang-orang yang terjalin dalam jaringan kekuasaan dan kepentinganlah yang boleh duduk di tampuk kekuasaan?"

 

Zulfadli menegaskan, rangkaian peristiwa ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bukti nyata bahwa sistem negara ini sudah rusak parah. "Kalau penyakit sudah stadium 4, penyembuhannya tidak bisa lagi sekadar minum obat biasa. Harus ada perubahan total, harus ada keberanian untuk kembali pada kebenaran dan amanah. Selama yang salah terus dilindungi, yang jujur terus dipinggirkan, dan rakyat terus menjadi sapi perah untuk menutupi kesalahan elit, maka jangan harap negara ini akan sembuh. Kita sedang melihat bagaimana sebuah bangsa perlahan runtuh bukan karena serangan musuh dari luar, melainkan karena kerusakan dan kelicikan yang tumbuh subur dari dalam," pungkas Zulfadli dengan nada penuh keprihatinan.

 

(Pimpinan redaksi dan pendiri LSM Bungong Lam Jaro)

0 Komentar