BungongLamJaroe.Com | Langsa – Gelaran acara Dzikir dan Damai untuk Negeri yang digelar masyarakat Aceh dinilai sebagai langkah yang sangat baik, wajar, dan patut diapresiasi. Kegiatan ini seyogianya dapat dijadikan agenda tahunan bagi bangsa Indonesia, sebagai wujud pengingat terhadap perjanjian yang pernah disepakati Pemerintah Republik Indonesia bersama rakyat Aceh.
Namun, ujar Zainal abidin,MSI selaku pengamat sosial dia melihat harapan akan kedamaian itu berubah menjadi kekecewaan mendalam baginya menyusul insiden yang terjadi pasca-acara pada tanggal 15 Agustus 2026. Suasana yang semula khidmat berubah mendadak menjadi mencekam dan diwarnai keributan, bahkan dikhawatirkan menimbulkan korban di kalangan warga yang hadir di lokasi tersebut.
Menyikapi hal tersebut, seorang pengamat sosial Zainal abidin,MSI ya yang dimana selaku tokoh dari masyarakat aceh menyampaikan kekecewaannya yang luar biasa terhadap kinerja pihak keamanan, baik Polri maupun TNI. Beliau menilai pihak keamanan gagal melakukan antisipasi terhadap segala kemungkinan yang terjadi sebelumnya. Apalagi insiden berlangsung di kawasan yang sangat suci dan strategis, yaitu Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
"Seharusnya pihak keamanan mampu menahan diri dan bertindak secara persuasif menghadapi masyarakat, bukan justru memicu ketegangan. Ini sangat mengecewakan," tegas beliau dengan lugas.
Rakyat Aceh, tambahnya, baru saja ditimpa berbagai musibah dan kesulitan hidup. Ketegangan semacam ini jelas menambah beban psikologis masyarakat. Padahal, acara dzikir dan damai yang sempat dipindah pelaksanaannya siang tadi bertujuan semata-mata untuk membangun kedamaian dan ketenangan hati. Namun, seketika usai dzikir, suasana berbalik menjadi penuh tekanan dan ketakutan.
Oleh sebab itu, disampaikan harapan agar pihak keamanan dapat mengubah pendekatan dan benar-benar menahan diri. Pendekatan yang humanis dan tenang sangat dibutuhkan guna menciptakan suasana yang kondusif dan damai bagi seluruh warga Banda Aceh maupun masyarakat Aceh secara keseluruhan hal itu tentunya harus sejalan dari perjanjian MOU aceh dan indonesia.
Demikian pendapat dan kekecewaan yang disampaikan terkait peristiwa ini. Semoga menjadi peringatan bagi semua pihak.
Zul



0 Komentar